Representasi Tradisi Ngayau Suku Dayak Dalam Film Kabut Berduri (Kajian Semiotika Charles Sanders Peirce)
Kata Kunci:
Representasi, Tradisi Ngayau, Suku Dayak, Film, Kabut BerduriAbstrak
Tradisi ngayau merupakan warisan budaya Dayak yang dahulu berfungsi sebagai simbol kehormatan, perlindungan, dan spiritualitas melalui praktik perburuan kepala. Seiring perkembangan zaman, makna ngayau mengalami transformasi menjadi simbol kebanggaan identitas budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tradisi ngayau direpresentasikan dalam film Kabut Berduri karya Edwin yang tayang di Netflix pada tahun 2024. Film ini menampilkan visualisasi kekerasan berupa pemenggalan kepala, yang dikaitkan dengan praktik ngayau dalam konteks konflik sosial, ketidakadilan struktural, dan eksploitasi budaya di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan metode analisis semiotika Charles Sanders Peirce untuk mengurai representamen, objek, dan interpretan dari adegan-adegan terpilih dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ngayau dalam film ini direpresentasikan secara kompleks dan terdistorsi sebagai bentuk perlawanan atas ketidakadilan sekaligus sebagai alat manipulatif untuk menutupi kejahatan institusional. Representasi tersebut mengungkap bagaimana budaya lokal dapat digunakan sebagai simbol kekuasaan, menciptakan stigma, serta membingkai ulang makna warisan budaya dalam narasi dan visualisasi.