Studi Perbandingan Perencanaan Struktur Hotel Everbright Bojonegoro dari Struktur Beton (eksisting) ke Struktur Baja Tahan Gempa

Penulis

  • Alfi Suhaimi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
  • Bantot Sutriono Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Kata Kunci:

Gempa Bumi, Struktur Baja, Struktur Tahan Gempa, SMRF

Abstrak

Indonesia adalah negara dengan potensi gempa bumi yang tinggi karena lokasinya di pertemuan empat lempeng tektonik utama. Kondisi ini sering menyebabkan gempa bumi, baik di darat maupun di laut, yang berdampak signifikan pada keselamatan manusia dan kerusakan infrastruktur. Hotel Everbright Bojonegoro adalah gedung tinggi yang pembangunannya terhenti karena masalah perizinan. Pada desain awal, bangunan tersebut menggunakan struktur beton bertulang. Namun, dengan meningkatnya ancaman gempa bumi, seperti gempa Tuban dan potensi terjadinya gempa megathrust, penting untuk mempertimbangkan alternatif struktur yang lebih tahan gempa. Struktur baja direkomendasikan sebagai alternatif karena daktilitasnya yang tinggi. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa struktur baja dapat mengalami deformasi besar tanpa runtuh, dibandingkan dengan struktur beton. Oleh karena itu, dalam proyek akhir ini, penulis mengusulkan desain struktur alternatif untuk Hotel Everbright Express yang belum dibangun menggunakan sistem struktur baja tahan gempa, khususnya sistem Special Moment Resisting Frame (SMRF), sesuai dengan SNI 1729:2020 dan SNI 7860:2020. Desain alternatif menggunakan kolom KingCross 588x300, balok utama dengan profil WF 600x200, WF 500x200, WF 450x200, dan WF 400x200, serta balok sekunder dengan profil WF 400x200, WF 350x175, dan WF 300x150. Ketebalan pelat lantai adalah 120 mm. Gaya geser statis pada desain alternatif adalah 167.716,14 kg, yang lebih rendah daripada gaya geser statis desain yang ada sebesar 252.417,42 kg. Perpindahan maksimum pada desain alternatif adalah 42,24 mm pada arah Y, yang juga lebih kecil daripada perpindahan maksimum desain yang ada sebesar 47,89 mm pada arah X. Baik desain alternatif maupun desain yang ada memenuhi tingkat kinerja “Pengendalian Kerusakan” (DC). Namun, biaya struktural untuk elemen utama (kolom dan balok) pada desain alternatif lebih tinggi, yaitu sebesar Rp 12.592.200.000, dibandingkan dengan Rp 2.618.083.250 pada desain yang ada.

##submission.downloads##

Diterbitkan

2026-03-05

Terbitan

Bagian

Articles