PENDAMPINGAN PADA ANAK USIA 5-9 TAHUN UNTUK DAPAT BERADAPTASI DENGAN CULTURAL JAWA DI RUMAH HARAPAN YAYASAN YATIM DAN PIATU, DHUAFA KELURAHAN BENDUL MERISI KECAMATAN WONOCOLO KOTA SURABAYA
Abstract
Cultural Jawa Merupakan budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa salah satunya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari-hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Perpindahan dari daerah asal atau pusat ke lingkungan baru oleh Cabang Rumah Harapan Yayasan Yatim dan Piatu, Dhuafa baru. Dari pusatnya yang di Jawa Barat-Jakarta ke Kota Surabaya pada tahun 2019, memunculkan pemahaman Cultural Jawa. Ketika seseorang tidak mengenal kebiasaan-kebiasaan sosial dari kultur baru atau jika ia mengenalnya maka ia tidak dapat atau tidak bersedia menampilkan perilaku yang sesuai dengan aturan-aturan itu (Furnham dan Bochner, dalam Dayakisni, 2008:187). Kemampuan untuk menciptakan adaptasi secara mandiri kepada anak-anak usia 5-9 tahun. Tujuan program pengabdian ini adalah pada anak untuk dapat beradaptasi dan memahami cultural jawa, beradaptasi dengan lingkungan daerah, menciptakan kemandirian anak pada lingkungan sekitar di Rumah Harapan Yayasan Yatim & Piatu, Dhuafa Kelurahan Bendul Merisi Kecamatan Wonocolo Kota Surabaya. Sehingga anak dapat merasa nyaman dan paham saat berinteraksi dengan teman sebayanya di sekolah maupun di sekeliling lingkungan tempat tinggal. Dengan menggunakan metode pendampingan kemanusiaan kepada anak-anak di Rumah Harapan Yayasan Yatim dan Piatu, Dhuafa, Kelurahan Bendul Merisi Kecamatan Wonocolo Kota Surabaya. Mengenai pembahasan tentang bagaimana menciptakan adaptasi secara mandiri dan bersosialisasi dengan lingkungan dan cultular jawa di sekitar yayasan tempat mereka tinggal. Pemberian materi mengenalkan cultular jawa. Mengenai bahasa, sejarah asal usul, dan materi seperti motivasi percaya diri. Serta dengan rekayasa sosial dan ice breaking untuk ketertarikan anak-anak mengikuti kegiatan. Sehingga dengan adanya rekayasa sosial mengenai pendampingan, anak-anak di Yayasan Yatim, Piatu dan Dhuafa menjadi paham dan mempermudah berinteraksi sosial dengan warga sekitar.




